Nama : SITI FITRIANAH
NIM : 18.01.013.120
Mata Kuliah : Sistem Informasi Geografis
Dosen Pengampu : Nawassyarif, S.Kom.,M.Pd
Link UTS : www.uts.ac.id
Facebook Nusa Baca : https://www.facebook.com/nusa.baca.18
Nama : SITI FITRIANAH
NIM : 18.01.013.120
Mata Kuliah : Sistem Informasi Geografis
Dosen Pengampu : Nawassyarif, S.Kom.,M.Pd
Link UTS : www.uts.ac.id
Facebook Nusa Baca : https://www.facebook.com/nusa.baca.18
Nama :
SITI FITRIANAH
NIM :
18.01.013.120
Mata Kuliah :
Sistem Informasi Geografis
Dosen Pengampu :
Nawassyarif, S.Kom.,M.Pd
Link
UTS : www.uts.ac.id
Facebook Nusa Baca :
https://www.facebook.com/nusa.baca.18
TUGAS REVIEW 5 JURNAL
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Nama : SITI FITRIANAH
NIM : 18.01.013.120
Mata Kuliah : Sistem Informasi Geografis
Dosen Pengampu : Nawassyarif, S.Kom.,M.Pd
Link UTS : www.uts.ac.id
Facebook Nusa Baca : https://www.facebook.com/nusa.baca.18
WEBINAR GIS 1
RAGAM APLIKASI SPBE BERBASIS SPASIAL (SIG)
1. KNOWLEDGE IN GIS
Ilmu yang tidak bisa berdiri sendiri, jadi dia ada bagiannya computer sciense, kemudian ada geografis dkk karna dasarnya memang peta. dan ada juga bagian engineering/teknologi dan alat-alatnya, dan ada juga ke aplikasinya.
a. Computer Science
- Graphic
- Visualization
- Database
- Security
- Statistic
- Simulation
- AI
b. Gheography
- Geodesi
- Cartografi
- Photografi
- Remote Sensing
c. Engineering and Technology
- Survey tech
- Satelite, drone, dll
- Hardware, dsb
d. Aplication Area
- Public Administration
- Planning
- Forestry
- Transportation
- Marketing
- Environmet
- Dsb
Untuk membuat sebuah aplikasi GIS yang tematik dan cukup berhasil akan memerlukan banyak knowledge/pengetahuan yang dibutuhkan, mungkin gak harus 1 orang, harus banyak orang yang seharusnya dilibatkan.
2. GIS Layers
GIS itu biasanya ada semacam layers/tumpukan data, misalnya ada data jalan, rumah, tanah dibentuk dalam 1 tema, dan setiap layers terdiri dari satu element itu sendiri.
GIS dibentuk dari layer-layer sesuai dengan temanya. Layer tersebut bisa berupa :
a. Base map (google, bing, OSM, dsb..)
b. Data Raster
c. Data Vector
- Point
- Line
- Polygon
d. Data vector yang di rasterkan (tile) untuk optimasi visualisasi
Pada zaman dulu pada saat kita membuat peta tampilannya sangat sederhana hanya terdiri dari data Vector yaitu kumpulan line, polygont dan point. Akan tetapi sekarang sudah banyak aplikasi yang bisa membuat tampilan peta kita lebuh hidup dan nyata, contoh bing, OSM, dsb. Ada kalanya data vectore itu cukup besa, karna cukup besar dia di rasterkan untuk optimasi visualisasi.
3. DATA SOURCES
Berawal dari data kertas, kemudian diambil dari database. Bisa juga menggunakan data dasar dari webnya BIG (Badan Informasi Geospasial), bisa mengambil data di seluruh Indonesia. Nah data yang lain bisa diambil dari drone/satelit/pesawat. Intinya data bisa diambil dari berbagai sumber.
4. APLIKASI GIS
Aplikasi GIS diperlukan jika :
- Data spasial bersifat dinamis
- Data spasial statis tapi tabularnya dinamis dan terhubung dengan tampilan spasialnya. Contoh : peta penderita covid per kelurahan.
- Kebutuhan untuk ditampilkan ke publik dan terhubung dengan data dalam suatu sistem informasi. Contoh GIS reklame.
5. GIS in DIKW
DIKW (Data Information Knowledge and Wisdom). Contoh studi kasus Lalu Lintas :
- Wisdom : Pengaturan timer dan arus lalu lintas
- Knowledge : Saat pagi antrian ke arah utara lebih panjang, saat sore sebaliknya
- Information : Pemodelan kondisi lalu lintas jam per jam
- Row Data :Lampu statistic kendaraan
Contoh kasus :
“Pencarian lokasi OPTIMAL untuk membangun gedung sekolah negeri di Surabaya”
Faktor yang mempengaruhi :
a. Faktor administrasi
Factor yang dihitung berdasar jumlah sekolah pada kelurahan SD/Kecamatan(SMP, SMA). Agar secara administrasi beban kelurahan / kecamatan merata. Semakin kecil jumlah sekolah di situ maka semakin bagus nilainya.
b. Faktor Polupasi
Faktor yang dihitung berdasar jumlah usia sekolah dan forecasting nya sampai 25 tahun kedepan. Dihubungkan dengan wilayah RW. Semakin banyak populasi di suatu lokasi nilainya akan semakin bagus.
c. Faktor Transfortasi
Faktor yang dihitung berdasar rite transfortasi public, angkot dan bus kota. Daerah yang semakin banyak dilewati rute nilainya semakin bagus.
d. Factor lingkungan
Faktor yang dihitung lingkugan yang baik. Berada di wilayah rumah penduduk, bukan industry, perdagangan, militer, dsb. Dan dekat dengan wilayah hijau. Dan jauh dari daerah rawan banjir.
e. Faktor Arus Siswa
Faktor yang dihitung dari perkiraan arus siswa saat berangkat sekolah. Daerah yang sudah padat oleh arus siswa nilainya jelek. Daerah yang sedikit arus akan bernilai baik.
f. Faktor preferensi Publik
Faktor yang dihitung dari survey ke masyarakat dengan menanyakan :
- Dimana rumahnya
- Dimana tempat kerjanya
- Apakah oke jika lokasi sekolah berada di jalur antara rumah dan sekolah
6. APLIKASI SIG DI GIS
Beberapa contoh aplikasi SIG yang bisa dikembangkan berdasar tupoksi dari OPD.
TATI gomap
Alamat http://gomap.id
Digunakan untuk membuat dan men share peta thematic kewilayahan dengan mudah.
a. Siapkan data
b. Setting layer
NB :
Peta dapat dlihat di alamat : gomap.id/daerah/namapeta, ex : gomap.id/Tangerang/sekolah
WEBINAR GIS 2
GIS FOR MARINE STUDIES (Sistem Informasi Geografis dalam Kelautan)
Narasumber 1
“Pemanfaatan Jasa dan Sumber Daya Kelautan”
1. Pembahasan
- Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGaR)
- Bangunan dan Instalasi Laut
- Reklamasi
- Wisata Bahari dan BMKT (Benda Muatan Kapal Terdalam)
Ketika kita berbicara mengenai kelautan hal yang harus kita ingat yaitu nilai tambah dari jasa dan lingkungan, agar ada nilai ekonomi bagi masyarakat dan bagi negara.
2. Isu
Belum optimalnya pendayagunaan dan kontribusi jasa kelautan bagi masyarakat ekonomi dan lingkungan.
3. Sasaran
Pemanfaatan jasa kelautan berbasis kawasan, desa, dan lokasi untuk peningkatan ekonomi masyrakat pesisir dan perbaikan lingkungan.
4. Target
100 kawasan/desa pesisir
5. Program
- SEGAR (Sentra Ekonomi Garam Rakyat)
- Dewi Bahari (Desa Wisata Bahari)
- Depan Laut (Desa Pangan Laut)
- BMKT
- RDKP (Rekonstruksi Desa dan Kawasan Pesisir)
- Garda Laut (Gerakan Sadar Tata Kelola Bangunan dan Instalasi di Laut dan Rig to Reef)
- SKPT Talaud
Sumber Daya dan Jasa Kelautan dari program di atas harus memikirkan ruang kawasan mana yang akan dikembangkan, dan harus bisa membedakan mana yang akan menjadi target utama pertumbuhan ekonomi.
6. Bangunan dan Instalasi di Laut
Adalah bangunan yang menempel di pesisir, perairan, kolong mauoun dasar laut. Yang harus diperhatikan dalam pendirian dan penempatannya adalah :
- Kesesuaian lokasi
- Perlindungan dan kelestarian SDK
- Keamanan bencana di laut
- Keselamatan pelayaran
- Perlindungan masyarakat
- Wilayah pertahanan negara
7. Reklamasi
Reklamasi adalah untuk meningkatkan fungsi lahan. Mengapa perlu reklamasi di WP3K ?
- Keterbatasan lahan untuk pengembangan kawasan dan pembangunan
- Pesisir rawan bencana perlu lahan untuk greenbelt/pelindung pantai
- Pesisir rusak karena erosi dan abrasi
- Perlindungan daratan rendah pesisir
- Mengatasi subsiderence
- Mengatasi kenaikan paras muka air laut
- Merekam/mengisi lahan yang hilang
8. Peran SIG dalam Pemanfaatan Jasa dan Sumber Daya Kelautan
Peran SIG diantaranya yaitu :
- Verifikasi lahan integrasi
- Pemutakhiran Informasi Geospasial (IG)
- Penyusunan GGN dan GGR
- Penyusunan Peta Bangunan dan Instalasi Laut
- Penyusunan Peta Indikasi Reklamasi
- Penyusunan Status Data Reklamasi
- Penyusunan Peta bantuan Sarpras Wisata Bahari
- Penyusunan peta sebaran kapal tenggelam dan BMKT
Narasumber 2
“Definisi SIG”
1. Pendahuluan
- ± 60 % wilayah Indonesia terdiri dari laut
- Garis pantai terpanjang kdeua di dunia
- Belum tereksplorasi lokasi luas dan sulit dijangkau
- SIG mampu mengombinasikan bermacam-macam data holistic serta mudah dimengerti pengambilan keputusan mudah
- Kombinasi pengetahuan (multidisplin) dan teknologi
2. Pengertian
SIG adalah sistem komputer yang mampu menangani data bereferensi geografi mulai dari proses input, pengelolaan, manipulasi, analisis, serta penyajian data. SIG tidak hanya berfungsi untuk membuat peta sebagai sarana visualisasi, namun prosesnya melalui serangkaian analisis.
3. Aplikasi SIG
Mapping, Measurement, Monitoring dan Modelling
4. Kesimpulan
- SIG berpotensi mampu menjawab kebutuhan data dan informasi kelautan di Indonesia, karena sebagian besar fenomena kelautan memiliki keterkaitan secara ruang dan waktu.
- Kemampuan SIG untuk mengintegrasikan dan menganalisis berbagai jenis data, mendukung kajian kelautan yang multi disiplin. Kajian tersebut melibtakan kolaborasi antar kompetensi keahlian, sehingga sangat memungkinkan untuk menghasilkan informasi baru untuk menjawab berbagai isu atau fenomena yang berbasis keruangan.
- Perkembangan SIG melalui perangkat aplikasinya yang semakin beragam dan menyediakan banyak pilihan, menawarkan kemudahan dalam melakukan kajian berbasis keruangan secara lebih efektif dan efisien.
WEBINAR 3
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Narasumber 1
“Pemetaan Lahan Kritis pada Daerah Aliran Sungai berbasis SIG”
1. Pengertian :
Lahan kritis adalah lahan yang fungsinya kurang baik sebagai media produksi untuk menumbuhkan tanaman yang dibudidayakan atau yang tidak dibudidayakan.
2. Klasifikasi Lahan Kritis :
Peta tutupan lahan Peta Kemiringan Lereng Peta Erosi Peta Manajemen Land Map Unit ( LMU) Perhitungan nilai kekritisan lahan dengan metoda crisp klasifikasi lahan kritis
Klasifikasi dengan himpunan tegas (crisp) seringkali memberikan hasil yang berbeda dengan kondisi di lapangan.
3. Hydraulic Response Unit (HRU)
Area yang memiliki kesamaan tutupan lahan, kemiringan lereng, dan jenis tanah.
4. Strategi Rehabilitasi Lahan Kritis
Penggunaan matriks kekritisan lahan sebagai perangkat penetapan program rehabilitasi dan Penggunaan peta dstribusi lahan kritis sebagai perangkat penentuan lokasi priorotas rehabilitasi.
5. Kesimpulan dan Saran
- Dalam perhitungan nilai lahan, pengelompokkan lahan yang mempunyai karakteristik yang sama ke dalam satu Hydrologic Response Unit (HRU) akan mempercepat proses perhitungan.
- Pembaruan data spasial mrnyangkut jenis tanah dan manajemen pengelolaan tanah perlu dilakukan dengan skala yang lebih memadai.
- Pengintegrasian proses secara lebih terpadu
Narasumber 2
“Upaya penanganan Banjir Secara Terpadu dengan Memanfaatkan Aplikasi SIG dan Model Numerik Banjir”
1. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu
Pengelolaan Sumber Daya Air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan Konservasi SDA, Pendayagunaan SDA, dan Pengendalian Daya Rusak Air.
Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh Daya Rusak Air. Contohnya Banjir.
Pola pengelolaan Sumber Daya Air adalah perencanaan secara menyeluruh dan terpadu untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air dan berfungsi sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai.
Penyebab banjir yang ada di sungai yaitu hujan, longsor, dan bisa juga akibat keruntuhan bendungan. Factor-faktor yang menyebabkan banjir adalah Basin Constant, Basin Variable, dan Dranage Network.
Kegiatan Pengendalian Banjir
- Mengenali besarnya debit air
- Mengurangi tinggi elevasi muka air banjir – (model numerik banjir)
- Mengisolasi daerah genangan banjir
2. Sistem Informasi Geografis
SIG adalah sebuah sistem yang terdiri dari perangkat lunak, perangkat keras, data dan sumber daya manusia sehingga membuat suatu Sistem Informasi Geografis ini menjadi suatu data yang valid.
Metoda Proses Pengadaan Data SIG bisa didownload dari provider yang ada, atau juga dengan proses pengadaan data SIG secara nyata yang biasa dilakukan menggunakan peta satelit pengukuran telistis, pengambilan foto udara, dll setelah itu dianalisis dan diolah menjadi suatu sistem database.
3. Hidrologi Berbasis SIG
Inverse Distance Weighting (IDW) adalah metode interpolasi yang mengasumsikan bahwa semakin dekat dengan suatu titik terhadap titik yang tidak diketahui nilainya, maka semakin besar pengaruhnya.
4. Tahapan Model Numerik Banjir Berbasis SIG
Tahapan Model Numerik Banjir Berbasis SIG dapat dilakukan menggunkan 2 model yaitu Pemodelan Hodrodinamik 1 D dan 2 D.
5. Penanganan Banjir Terpadu
Penanganan Banjir Terpadu tidak akan terlepas dari kerangka pengeloalaan air terpadu. Yaitu pengelolaan Sumber Daya Air, Upaya Pengelolaan Lahan Lingkungan dan Pengelolaan Resiko dengan melakukan Upaya Pengelolaan Keberlanjutan.
6. Kesimpulan
- Pengelolaan SDA Berbasis GIS sudah menjadi keharusan dalam upaya mengoptimalkan kesejahteraan ekonomi dan sosial agar program pengelolaan sumeber daya berkelanjutan.
- Ketersediaan data GIS dari pemerintah dengan one map one policy dapat memberikan kemudahan dalam mengupayakan penanganan banjir.
- Model numerik banjir akan sangat prsesisi dengan bantuan Data berbasis GIS sebagai alat bantu dalam penanganan banjir terpadu, terutama dalam kaitannya dengan kalibrasi dan verifikasi model numerik.
Narasumber 3
“Enabling the Ontelligent Water System”
Bagaimana kita bisa mengembangakan lebih jauh dengan teknologi GIS yang saat ini sudah mengalami transformasi digital lebih jauh.
Indutri 4.0 adalah dimana perkembangan informasi dan teknologi sangatlah cepat. Untuk sampai menuju transformasi digital memiliki banyak tantangan, dan ada 3 aspek diantaranya :
- Real World Modelling
Bagaimana kita bisa mengaplikasikan apa yang ada di dunia nyata ke dalam pemetaan sehingga kita bisa melacak apa asset yang ada di lapangan.
- Integrate Multiple Systems
Bagaimana kita bisa Mengintegrasi atau menggabungkan analisa yang kita sudah lakukan di teknologi lainnya dengan GIS. Contohnya IoT, AT, dan WM.
- Field Office Colaboration
Melakukan kolaborasi data yang di lapangan secara realtime dan ditampilkan melalui dashboard sehingga semuanya bisa di integrasi secara langsung.
Nama : SITI FITRIANAH
NIM : 18.01.013.120
Mata Kuliah : Sistem Informasi Geografis
Dosen Pengampu :
Nawassyarif, S.Kom.,M.Pd
Link
UTS : www.uts.ac.id
Facebook Nusa Baca : https://www.facebook.com/nusa.baca.18
Nama : SITI FITRIANAH
NIM :
18.01.013.120
Kelas : Sistem Informasi Geografis A
Dosen : Nawassyarif, S.Kom.,M.Pd
Link : www.uts.ac.id
REVIEW 2 (DUA) JURNAL INTERNASIONAL
A. Jurnal 1 (Geographic Information System Produksi
Energi dan Pertambangan Kabupaten Musi Banyuasin)
1. Tujuan
Penelitian
Peneliti
akan memberikan alternatif pemberian informasi kepada pemangku kepentingan yang
ada pada Kabupaten Muba berkaitan dengan profiling produksi energi dan
pertambangan berbasis lokasi melalui GIS. Dengan harapan GIS produksi energy dan
pertambangan yang disediakan dapat menjadi bahan masukkan dalam menentukan kebijakan
atau keputusan. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai pelaporan (open data) kepada
pihak-pihak yang membutuhkan.
2. Permasalahan
Indonesia
mengalami begitu banyak masalah lingkungan dan bencana alam. Masalah yang
paling hangat saat ini adalah masalah air. Bencana alam yang terjadi, baik
berupa longsor lahan, banjir, maupun kekeringan, semuanya berkaitan dengan air.
Pencemaran sungai merupakan masalah yang membuat salah satu sumber air tidak
dapat digunakan sebagaimana mestinya. Penurunan kualitas air diduga disebabkan
oleh banyaknya permukiman dan industri yang tumbuh di DAS Citarum. DAS Citarum
merupakan DAS terbesar di Jawa Barat, dengan luas sekitar 6.614 km² dan panjang
sungai 269 km.
Kondisi
pencemaran air di suatu perairan dapat diindikasikan dengan mengetahui keberadaan
atau besar kecilnya muatan oksigen di dalam air. Untuk menentukan status muatan
oksigen di dalam air perlu dilakukan pengukuran besarnya BOD (Biological Oxygen
Demand) atau kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam
air oleh mikroorganisme, dan atau COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan
oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.
Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai suatu sistem yang mampu mengumpulkan, menyimpan, mentransformasikan, menampilkan dan mengkorelasi data spasial serta fenomena geografis, dapat digunakan untuk memperoleh sebaran tingkat pencemaran. SIG adalah suatu sistem informasi yang dirancang berdasarkan letak spasial atau koordinat geografis dari suatu obyek atau fenomena di permukaan bumi. Salah satu produk SIG adalah dalam bentuk peta. Sebuah peta pada dasarnya merupakan sekumpulan informasi yang diperoleh dari proses pengolahan dan analisis data. Informasi yang terkandung dalam sebuah peta dapat digunakan untuk pengambilan keputusan atau penentuan kebijaksanaan (decision support). Penggunaan teknik penginderaan jauh yang dipadukan dengan SIG diharapkan dapat menyediakan data dan menganalisis data secara spasial, sehingga dapat menghasilkan informasi yang dapat dipakai untuk mengambil keputusan yang bersifat integratif.
3. Metode
Penelitian
Tahapan penelitian Geographic information system produksi energi dan pertambangan dilakukan berdasarkan model pengembangan perangkat lunak. Model pengembangan perangkat lunak yang digunakan yaitu Extreme Programming (XP). XP merupakan salah satu dari model pengembangan Agile yang meliputi Feature-Driven Development, Crystal, Dynamic Systems Development Method [35], Scrum, Adaptive Software Development, dan Extreme Programming itu sendiri [36]. Dalam proses pengembangan menggunakan XP mengikuti prinsip pengembangan Agile karena XP merupakan bagian dari Agile itu sendiri. Prinsip-prinsip tersebut yaitu (memproritaskan kepuasan pelanggan, terbuka ketika ada perubahan, memberikan hasil pekerjaan secara berkala,pengembang dan client berkerja bersama-sama, memberikan motivasi personal anggota tim, membuat cara efektif dan efisien dalam pengumpulan informasi, memproritaskan kemajuan proyek, menjaga keberlanjutan hubungan antara pihak sponsor, pengembang dan pengguna, memberikan perhatian lebih terhadap hal teknis, membuat sesuatu sesederhana mungkin, menghasilkan arsitektur, kebutuhan, dan perancangan dari tim sendiri, dan berusaha melakukan pekerjaan secara efektif dan dilakukan secara berkala.
Untuk itu sebagai langkah pengembangan sebagai proses penelitian menggunakan Extreme Programming (XP) dengan tahapan exploration, planning, iteration, production dan maintenance seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.
Gambar 1
Extreme programming phase (Ferdiana, 2012).
Dari proses pengembangan seperti
pada Gambar 1 maka dapat dijelaskan pekerjaan pada masing-masing fase seperti
berikut.
a.
Exploration, fase ini fokus pada pengumpulan kebutuhan.
Kemudian melakukan perumusan kebutuhan dan membuat prototype produk (software spesification).
b.
Planning, fase ini fokus pada pemilihan
atau pemilahan kebutuhan yang telah dikumpulkan. Pemilihan tersebut dilakukan
dengan cara melibatkan pengguna (client). Setelah melakukan pemilihan kebutuhan
maka dibuat release planning dan
iteration planning. Release planning
berisikan fitur dari perangkat lunak yang akan dikembangkan sedangkan iteration planning berisikan tahapan
pengerjaan perangkat lunak dan produk pada masing-masing tahapan.
c.
Iteration, fase ini fokus pada melakukan isi
dari iteration planning yang terdiri dari pengerjaan arsitektur, pengkodean
perangkat lunak, pengujian komponen perangkat lunak dan dilanjutkan dengan melakukan
release dalam bentuk small release.
d.
Production, fase ini fokus pada pengujian
hasil iterasi (small release). Pengujian perangkat lunak dilakukan melibatkan
pengguna (client) dan hasil pengujian yang sudah benar akan dilakukan
integrasi.
e.
Maintenance, fase ini fokus pada layanan
pendukung setelah perangkat lunak diberikan kepada pengguna (client). Selain
itu juga melakukan perbaikan jika diperlukan serta melakukan pengembangan jika diperlukan.
4. Penutup
Geographic
Information System
produksi energi dan pertambangan yang dikembangkan dapat melakukan pengolahan
data menjadi informasi dalam bentuk laporan bagi pihak Distamben maupun
perusahaan. Laporan yang disajikan dapat digunakan sebagai laporan kepada pihak
terkait sebagai upaya open data energi dan pertambangan untuk dijadikan bahan
dalam
pengambilan kebijakan atau keputusan. Geographic
Information System yang dihasilkan dikembangan secara sistematis
menggunakan pendekatan extreme
programming dengan lima tahapan exploration,
planning, iteration, production dan maintenance
sehingga dapat berjalan dengan baik sesuai fungsinya.
B.
JURNAL 2 (Pengembangan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis Web untuk
Manajemen Pemanfaatan Air Tanah Menggunakan Php, Java dan Mysql Spatial)
1. Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana pengembangan SIG berbasis
web yang diimplementasi-kan untuk pengelolaan air tanah di Kabupaten Banyumas menggunakan
Java, MySQL Spatial dan PHP. Mencakup pemanfaatanya dalam tujuan praktis pengelolaan
air tanah. Sehingga diharapkan dapat memberikan wawasan teoritis dan aplikatif
mengenai peranan Sistem Informasi Geografis.
2. Permasalahan
Dalam dunia sistem informasi
geografis (GIS) yang ada, pemetaan desktop telah mengambil peran penting untuk
mengelola dan menggunakan informasi spasial untuk bisnis. Melainkan aplikasi
GIS berbasis desktop memiliki batasan apa pun untuk pengguna. Penelitian
dilakukan untuk mengembangkan SIG berbasis web mengelola eksplorasi dan
produksi air tanah, mencegah eksplorasi yang tidak terkendali, menggunakan Jawa
Applet, MySQL Spatial dan PHP. Pengembangan sistem dirancang dengan menggunakan
model waterfall siklus hidup sistem dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1)
persyaratan sistem, 2) persyaratan perangkat lunak, 3) analisis, 4) desain
program, 5) pengkodean, 6) pengujian, dan 7) pengoperasian, didukung oleh studi
referensi, observasi, dan diskusi rekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dengan menggunakan Java Applet, MySQL Spatial dan PHP, SIG berbasis web untuk
pengelolaan air tanah dapat disesuaikan untuk membuat pemodelan spasial dan
pemodelan log sumur, pengguna ramah, interaktif, dapat dioperasikan,
informatif, dan mudah diakses dengan PC yang terhubung dengan LAN / WAN. Itu aplikasi
sangat membantu dalam rangka keseimbangan antara suplai airtanah dan produksi,
air tanah pemantauan level, pemantauan kualitas air, dan pemantauan pengguna
air tanah. Semoga implementasinya Sistem ini akan membantu konservasi pasokan
air tanah untuk pembangunan berkelanjutan.
3. Metode Penelitian
Gambar 2 Tahapan Pengembangan Sistem Menggunakan Model
Waterfall
Tahapan
pengembangan sistem yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model waterfall
(Demers, 1997), antara lain: 1) system requirements, 2) software
requirements, 3) analysis, 4) program design, 5) coding,
6) testing, dan 7) operations (Gambar 2).
Model
ini disebut waterfall karena satu tahapan tidak dapat dilaksanakan
sebelum tahapan sebelumnya selesai, sehingga harus dilaksanakan secara
berurutan. Guna mendukung pelaksanaan tahapan tersebut dilakukan studi literatur,
observasi, diskusi ahli:
a. Studi
literatur: merupakan upaya untuk menjelajahi berbagai data dan informasi yang
tertuang dalam buku, jurnal, laporan penelitian maupun informasi dari internet.
b. Observasi:
merupakan upaya untuk penggalian data dan informasi mengenai pengelolaan air
tanah yang selama ini dilakukan di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
Kabupaten Banyumas.
c. Diskusi ahli: merupakan upaya membahas berbagai data dan informasi yang dikemukakan oleh para ahli dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman dalam bidang geologi, geografi, teknologi informasi dan pengelolaan wilayah.
4. Penutup
Sistem
Informasi Geografis sangat bermanfaat untuk melaksanakan manajemen air tanah.
Banyak fungsi manajerial dan pengambilan keputusan yang dapat dibantu menggunakan
sistem ini, misalnya penerbitan rekomendasi maupun perijinan yang memungkinkan
tersedianya informasi kewilayahan secara cepat menyangkut variable- variabel
penting yang digunakan dalam upaya menjaga kelestarian air tanah. Bahkan dengan
teknologi Java Applet, MySQL Spatial dan PHP memudahkan bagi pengembang untuk
membuat pemodelan spatial maupun non spatial.
C.
KESIMPULAN
Di antara kedua jurnal di atas memiliki kelebihan dan
kekurangan masing-masing, baik dari metode yang digunakan maupun dari hasil
yang sudah diimplementasikan. Menurut pandangan saya, metode yang digunakan
oleh jurnal 2 lebih efisien dibandingkan dengan metode yang digunakan oleh
jurnal 1. Namun kebermanfaatan dan fungsi yang dimiliki oleh jurnal 1 sangat
bagus daripada yang di jurnal 2. Namun keduanya sama-sama memiliki ciri khas
masing-masing dalam menyusun sebuah jurnal penelitian ini.
Nama : SITI FITRIANAH
NIM :
18.01.013.120
Kelas : Sistem Informasi Geografis A
Dosen : Nawassyarif, S.Kom.,M.Pd
Link : www.uts.ac.id
Distribusi Spasial Tingkat Pencemaran
di Das Citarum
1. Tujuan
Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran
secara spasial kondisi tingkat pencemaran air DAS Citarum dalam bentuk peta tingkat pencemaran air DAS Citarum berdasarkan
data pengukuran sampel kualitas air. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi
rekomendasi pengambilan keputusan dalam pengelolaan DAS Citarum.
2. Pendahuluan
Indonesia
mengalami begitu banyak masalah lingkungan dan bencana alam. Masalah yang
paling hangat saat ini adalah masalah air. Bencana alam yang terjadi, baik
berupa longsor lahan, banjir, maupun kekeringan, semuanya berkaitan dengan air.
Pencemaran sungai merupakan masalah yang membuat salah satu sumber air tidak
dapat digunakan sebagaimana mestinya. Penurunan kualitas air diduga disebabkan
oleh banyaknya permukiman dan industri yang tumbuh di DAS Citarum. DAS Citarum
merupakan DAS terbesar di Jawa Barat, dengan luas sekitar 6.614 km² dan panjang
sungai 269 km.
Kondisi
pencemaran air di suatu perairan dapat diindikasikan dengan mengetahui keberadaan
atau besar kecilnya muatan oksigen di dalam air. Untuk menentukan status muatan
oksigen di dalam air perlu dilakukan pengukuran besarnya BOD (Biological Oxygen
Demand) atau kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam
air oleh mikroorganisme, dan atau COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan
oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.
Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai suatu sistem yang mampu mengumpulkan, menyimpan, mentransformasikan, menampilkan dan mengkorelasi data spasial serta fenomena geografis, dapat digunakan untuk memperoleh sebaran tingkat pencemaran. SIG adalah suatu sistem informasi yang dirancang berdasarkan letak spasial atau koordinat geografis dari suatu obyek atau fenomena di permukaan bumi. Salah satu produk SIG adalah dalam bentuk peta. Sebuah peta pada dasarnya merupakan sekumpulan informasi yang diperoleh dari proses pengolahan dan analisis data. Informasi yang terkandung dalam sebuah peta dapat digunakan untuk pengambilan keputusan atau penentuan kebijaksanaan (decision support). Penggunaan teknik penginderaan jauh yang dipadukan dengan SIG diharapkan dapat menyediakan data dan menganalisis data secara spasial, sehingga dapat menghasilkan informasi yang dapat dipakai untuk mengambil keputusan yang bersifat integratif.
3. Metode Penelitian
Gambar 1. Diagram alir penelitian
Data
kualitas air merupakan sekumpulan data hasil pengukuran besarnya nilai
kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) dari 33 lokasi titik sampel
(C1-C14 dan C27-C45) yang tersebar di dalam DAS Citarum selama 6 tahun, yaitu
sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 1999. Nilai kandungan BOD dari seluruh
titik sampel selanjutnya diplotkan ke dalam peta dasar. Hasil plot dalam bentuk
titik kemudian diinterpolasi menggunakan metode Poligon Thiessen untuk
memperoleh gambaran spasial dalam bentuk
Suatu area
(zonasi). Batas zonasi dari metode ini masih bersifat tentatif (karena
bentuknya kaku). Oleh karena itu selanjutnya ditumpangsusunkan (overlay) dengan
informasi pola aliran dan arah aliran untuk mendapatkan batas zonasi yang lebih
akurat dan lebih halus (smooth).
Dalam
penelitian ini menggunakan metode Poligon Thiessen. Dengan citra
satelit Landsat Thematic Mapper. Interpretasi dilakukan dengan membuat
klasifikasi multispektral menggunakan software ER Mapper ver. 6.3 yang
mempunyai kemampuan melakukan image processing.
4.
Metodelogi Penelitian Jurnal
Pembanding
Dalam penelitian ini
menggunakan data citra satelit landsat Thematic Mapper dengan data spasial.
Gambar 2. Diagram
alur penelitian
Dari hasil
keseluruhan proses analisi data,dapat disajikan pada diagram alur
penelitian (gambar 2) adalah :
a.
Intesitas
hujan pada periode ulang tertentu
b.
Tabel
satuan lahan tumpang tindih, berikut nilai koefisien aliran permukaan
c.
Laju
puncak aliran dalam suatu periode tertentu.
5. Hasil
dan Pembahasan
Hasil pengumpulan data berupa nilai
BOD dari 33 titik sampel tahun 1994-1999 Nilai rata-rata dari setiap titik
selama 6 tahun bervariasi tergantung lokasi pengambilan sampel. Nilai BOD
tertinggi yaitu C39 (378,87 mg/l) berlokasi di Cimahi Selatan, Kabupaten
Bandung. Nilai BOD terendah yaitu C38 (4,12 mg/l) berlokasi di Cisarua,
Kabupaten Bandung.
5.1 Kondisi Tingkat Pencemaran Air di DAS Citarum
Tingkat pencemaran air di DAS
Citarum terbagi atas 4 zonasi, yaitu zona agak tercemar (< 0,1 mg/l), kritis
tercemar (0,1 – 1 mg/l), sangat tercemar (1 – 2 mg/l), dan tercemar berat (>
2 mg/l).
Gambar 3. Citra landsat
TM Komposit 452 Daerah Penelitian (tahun 2000)
Penelitian hasil perekaman
tahun 2000, yang telah diproses dalam bentuk komposit menggunakan saluran band
452. Disajikan pada gambar 3.
Gambar 4. Peta zonasi tingkat pencemaran air DAS
citarum
5.1.1
Kondisi agak tercemar
Zona
agak tercemar terdapat di dua area, yaitu di sisi barat-utara dan sisi selatan
DAS Citarum. Zona ini paling dominan dibandingkan zona lainnya. Total luas zona
ini adalah 248.404,76 ha atau 54,46% dari luas keseluruhan DAS Citarum. Area
pertama dari zonasi ini seluas 180.060,11 ha, meliputi sub-DAS Cisokan dan
Cikundul di wilayah Kabupaten Cianjur pada sisi bagian barat DAS Citarum. Area
kedua berada pada sisi selatan DAS Citarum seluas 68.344,66 ha, yang meliputi
sub-DAS Ciwidey, Ci Sangkeuy dan Citarum Hulu yang masuk ke dalam wilayah
Kabupaten Bandung (Gambar 4).
5.1.2
Zona Kritis Tercemar
Zona
kritis tercemar terdapat di tiga lokasi dalam DAS Citarum dengan total area
yang tidak terlalu luas yaitu 54.686,95 ha atau 11,99% dari luas keseluruhan
DAS Citarum. Area pertama terletak di bagian tengah DAS Citarum, dengan luas
39.748,29 ha, meliputi sub-DAS Cisokan di Kabupaten Cianjur dan sebagian kecil
sub- DAS Cimeta di Kabupaten Bandung. Area kedua berada di sebelah timur laut
DAS Citarum
5.1.3
Zona Sangat Tercemar
Zona
sangat tercemar terdapat pada dua lokasi, yaitu di sebelah selatan dan
timur dari DAS Citarum dengan luas 73.282,05 ha atau 16,07% dari luas
keseluruhan DAS Citarum. Area pertama yang terletak di sebelah timur
memiliki luas sebesar 60.962,29 ha. Area ini meliputi dua sub-DAS,
yaitu Cisokan dan Area kedua berada di sebelah selatan dengan luas
12.319,76 ha, meliputi sub-DAS Citarik (Gambar 4)
5.1.4. Zona
Tercemar Berat
Zona
tercemar berat hanya terdapat dalam satu area, memanjang mulai dari bagian
tengah hingga ke sisi paling timur dari DAS Citarum. Luasnya
79.779,88 ha atau 17,49% dari luas keseluruhan DAS Citarum. Yang termasuk
dalam zona ini adalah sub-DAS Cimeta bagian tenggara, Ci Kapundung
bagian selatan, Ciminyak bagian timur, Ciwideuy, Cisangkeuy dan Citarum
Hulu bagian utara, serta Citarik bagian selatan (Gambar 4).
5.2 Tingkat Pencemaran air DAS di citarum
Gambar
5. Tingkat Pencemaran Air Pada Masing-masing sub-DAS
Pada peta tingkat
pencemar masing-masing sub-DAS menunjukkan bahwa dari keseluruhan sub- DAS yang
ada di DAS Citarum, sub-DAS Ci Kundul dan Citarum (Jatiluhur) – Ci Kao yang
berada di sebelah utara serta sub-DAS Ci Sokan di sebelah barat, merupakan
daerah yang relatif paling rendah tingkat pencemaran airnya. Tingkat pencemaran
air paling tinggi terjadi di sub-DAS Ci Kapundung yang berada di wilayah Kota
Bandung dan Cimahi serta sub-DAS Ci Tarik yang berada di sisi paling timur dari
DAS Citarum.
5.3 5.3 Kondisi Penutup Lahan DAS Citarum
Gambar
6. Kondisi Penutup Lahan DAS Citarum (tahun 2000)
Berdasarkan
Peta Penutup Lahan hasil interpretasi citra satelit Landsat TM wilayah DAS
Citarum perekaman tahun 2000, jenis penutup lahan yang paling dominan adalah
sawah, hutan dan kebun campuran yang mempunyai luasan di atas 20%. Permukiman
hanya 5,23% dan industri 0,49%. Untuk distibusi spasialnya disajikan dalam
Gambar 6 dan menunjukkan bahwa pada daerah yang kondisi tingkat pencemarannya
paling ringan yaitu sub-DAS Ci Sokan, Ci Kundul dan Citarum (Jatiluhur) – Ci
Kao, tutupan vegetasi sangat dominan di wilayah ini. Jenis penutup lahannya
mayoritas berupa hutan, sawah, kebun campuran dan perkebunan. Sebaliknya pada
sub DAS yang paling tercemar, yaitu sub-DAS Ci Kapundung dan Ci Tarik yang
terletak di wilayah Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung sebelah
timur, luasan permukiman lebih dominan dibandingkan hutan. Luas permukiman dan
juga industri pada wilayah zonasi tercemar berat, meningkat pesat (hampir
sekitar 4 kali lipat) dibandingkan dengan penutup lahan sejenis pada ketiga
zonasi pencemaran yang lain. Luas sawah pada zonasi tercemar berat paling
tinggi dibandingkan luas sawah pada zonasi lain.
5.4 5.4 Identifikasi Sumber Pencemaran
Gambar
7. Peta sebaran Kluster industri di DAS citarum
Hasil
kajian Balai Lingkungan Keairan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Air (1998) tentang Studi Pengendalian Pencemaran Air Berbasis
Kluster Industri di DAS Citarum menyebutkan bahwa di sekitar Kota
Bandung dan Kota Cimahi terdapat banyak sekali industri, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 7. Hal ini juga mengindikasikan bahwa banyaknya
industri di daerah tersebut turut berperanan menjadi sumber pencemaran air
sehingga menyebabkan kawasan Bandung dan sekitarnya merupakan zone
yang paling berat tingkat pencemarannya.
6. Kelebihan
dan Kekurangan Hasil Peta pada Kedua Jurnal ini
6.1 Kelebihan
·
Menggunakan
beberapa citra dengan sumber yang berbeda.
·
Dapat
menetukan batas zonasi yang lebih akurat dan lebih halus
·
Menggunakan
Teknik Overlay, sehingga sangat ditail dalam dalam menganalisis sebaran
pencemaran air DAS di citarum hulu
·
Dapat
merekam wilayah di permukaan bumi dengan lebih luas / cakupannya lebih besar.
6.2 Kekurangan
·
Jurnal
ini tidak terlalu detil dalam menentukan letak lokasi.
·
Peta
yang digunakan masih dalam skala kecil.
7. Kesimpulan
Kedua jurnal
tersebut terdapat peta yang masih memiliki kekurangan ataupun kesalahan
misalnya pada atribut peta yang kurang dan tanggal pembuatan peta.
Misalnya pada
jurnal acuan, kesalahan hanya terdapat pada perpaduan warna ataupun
keseuaian waran oleh si pembuat tanpa meperhatikan si pembaca.
Sedangkan pada
jurnal pembanding, pada peta tersebut tidak memiliki kejelasan pada bagian
legendanya. Tidak terdapat sumber peta dan untuk ukuran skalanya tidak jelas,
apakah termasuk kedalam meter, kilometer, dan lain-lain.
Siti Fitrianah 18.01.013.120 Pemrograman Mobile D Tutorial Membuat Text Field Menggunakan KivyMD 1. Sebelum melakukan kodingan kita haru...